Analisis PIECES

Untuk mengidentifikasi masalah, harus dilakukan analisis terhadap kinerja, informasi, ekonomi, keamanan aplikasi, efisiensi, dan pelayanan pelanggan. Panduan ini dikenal dengan analisis PIECES (performance, information, economy, control, eficiency, dan services). Dari analisis ini biasanya didapatkan beberapa masalah utama. Hal ini penting karena biasanya yang mucul di permukaan bukan masalah utama, tetapi hanya gejala dari masalah utama saja.

Analisis Kinerja

Masalah kinerja terjadi ketika tugas-tugas bisnis yang dijalankan tidak mencapai sasaran. Kinerja diukur dengan jumlah produksi dan waktu tanggap. Junlah produksi adalah jumlah pekerjaan yang bisa diselesaikan selama jangka waktu ptertentu. Pada bagian pemasaran, kinerja diukur berdasarkan volume pekerjaan, pangsa pasar yang diraih, atau citra perusahaan.

Eaktu tanggap adalah keterlambatan rata-rata antara suatu transaksi dengan tanggapan yang diberikan kepada transaksi tersebut

Analisis Informasi

Informasi merupakan komoditas krusial bagi pengguna akhir.

Evaluasi terhadap kemampuan sistem informasi dalam menghasilkan informasi yang bermanfaat perlu dilakukan untuk menyikap peluang dan menangani masalah yang muncul. Dalam hal ini meningkatkan kualitas indormasi tidak dengan menambah jumlah informasi, karena terlal banyaj informasi masalah akan menimbulkan masal baru. Situasi yang membtuhkan peningkatan informasi meliputi

a)      Kurangnya informasi mengenai keputusan atau situasi yang sekarang

b)      Kurangnya informasi yang relevan mengenai keputusan ataupun situasi sekarang

c)      Kurangnya informasu yang tepat waktu

d)     Terlalu banyak informasi

e)      Informasi tidak akurat

Informasi juga dapat merupakan fokus dari suatu batasan atau kebijakan. Sementara analisis informasi memeriksa output sistem, analisis data meneliti data yang tersimpan dalam sebuah sistem. Permasalahan yang dihadapi meliputi:

a) Data yang berlebihan. Data yang sama ditangkap dan/atau disimpan di banyak tempat

b) Kekakuan data. Data ditangkap dan disimpan, tetapi diosganisasikan sedemikian rupa sehingga laporan dan pengujian tidak dapat atau sulit dilakukan.

Analisis Ekonomi

Alasan ekonomi barangkali merupakan motivasi paling umum bagi suatu proyek. Pijakan dasar bagi kebanyakan manajer adalah biaya atau rupiah. Persoalan ekonomis dan peluang berkaitan dengan masalah biaya. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dapat disimak berikut:

1.      Biaya

a)      Biaya tidak diketahui

b)      Biaya tidak dapat dilacak ke sumber

c)      Biaya terlalu tinggi

2.      Keuntungan

a)      Pasar-pasar baru dapat dieksplorasi

b)      Pemasaran saat ini dapat diperbaiki

c)      Pesanan-pesanan dapat ditingkatkan

Analisis Keamanan

Tugas-tugas bisnis perlu dimonitor dan dibetulkan jika ditemukan kinerja yang di bawah standar. Kontrol dpasang untuk meningkatkan kinerja sistem, mencegah, atau mendeteksi kesalahan sistem, menjamin keamanan data, informasi, dan persyaratan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

1.      Keamanan atau kontrol yang lemah

a)      Input data tidak diedit dengan cukup

b)      Kejahatan (misalnya penggelapan atau pecurian) terhadap data

c)      Pelanggaran etika pada data atau informasi. Misalnya data atau informasi diakses orang yangtidak berwenang

d)     Data tersimpan secara berlebihan, tidak konsisten pada file-file atau database-database yang berbeda

e)      Pelanggaran peraturan atau panduan privasi data

f)       Terjadi error saat pemrosesan (oleh manusia, mesin, atau perangkat lunak)

g)      Terjadi error saat membuat keputusan

2.      Kontrol atau keamanan berlebihan

a)      Prosesdur birokratis memperlambat sistem

b)      Pengendalian yang berlebihan menganggu para pelanggan atau karyawan

c)      Pengendalian berlebihan menyebabkan penundaan pemrosesan

Analisis Efisiensi

Efisisensi menyangkut bagaimana menghasilkan output sebanyak-banyaknya dengan input sekecil mungkin.,

Berikut adalah indikasi bahwa suati sistem dapat dikatakan tidak efisien:

a)      Banyak waktu yang terbuang pada aktivitas SDM, mesin, atau komputer

b)      Data diinput atau disalin secara berlebihan

c)      Data diproses secara berlebihan

d)     Informasi dihasilkan secara berlebihan

e)      Usaha yang dibutuhikan untuk tugas-tugas terlalu berlebihan

f)       Material yang dibutuhkan untuk tugas-tugas terlalu berlebihan

Layanan

Berikut adalah beberapap kriteria penilaian dimana kualitas suatu sistem bisa dikatakan buruk:

a)      Sistem menghasilkan produk yang tidak akurat

b)      Sistem menghasilkan proudik yang tidak konsisten

c)      Sistem menghasilkan proudik yang tidak dipercaya

d)     Sistem tidak mudah dipelajari

e)      Sistem tidak mudah digunakan

f)       Sistem canggung untuk digunakan

g)      Sistem tidak fleksibel

Metode Konversi Sistem

Konversi sistem merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Derajad kesulitan dan kompleksitas dalam pengkonversian dari system lama ke sistem baru tergantung pada sejumlah faktor. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendali baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedurnya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

METODE UNTUK MENGKONVERSI SISTEM

Ada empat metode konversi sistem, yaitu :

■ Konversi Langsung (Direct Conversion)

■ Konversi Paralel (Parallel Conversion)

■ Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)

■ Konversi Pilot (Pilot Conversion)

  1. Konversi Langsung (Direct Conversion)

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turiy. Apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.

Pendekatan atau cara konversi ini akan bermanfaat apabila :

■ Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain

■ Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai

■ Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya

■ Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem-sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan : Relatif tidak mahal.

Kelemahan : Mempunyai risiko kegagalan yang tinggi. Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting.

Gambar 1. Konversi Langsung

  1. Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus.

Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu, kebalikan dari konversi langsung.

Dalam model konversi paralel, output dari masing-masing system tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Kelebihan :

Memberikan derajad proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.

Kelemahan :

Besarnya biaya untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai untuk mengetahui kinerja sistem tersebut. Mereka harus menentukan tanggal atau waktu penerimaan dalam tempo yang wajar dan memutus sistem lama.

Gambar 2. Konversi Paralel

  1. Konversi Bertahap {Phase-In Conversion)

Konversi dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari system lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung.

Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti yang lama. la menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.

Contoh :

Aktivitas pengumpulan data baru diimplementasikan, dan mekanisme interface dengan sistem lama dikembangkan. Interface ini memungkinkan sistem lama beroperasi dengan data input baru.

Kemudian aktivitas-aktivitas akses database baru, penyimpanan, dan pemanggilan diimplementasikan. Sekali lagi, mekanisme interface dengan sistem lama dikembangkan. Segmen lain dari sistem baru tersebut di-instal sampai keseluruhan sistem diimplementasikan.

Kelebihan :

Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama periode waktu yang luas.

Kelemahan :

Keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

Gambar 3. Konversi phase in

  1. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah.

Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

Contoh :

Salah satu kantor cabang atau pabrik, misalnya bisa berfungsi sebagai kelinci percobaan atau tempat pengujian alfa atau beta berfungsi untuk tempat versi sistem baru yang bekerja. Sebelum sistem baru diimplementasikan ke seluruh organisasi, sistem pilot harus membuktikan diri di tempat pengujian tersebut. Metode konversi ini lebih sedikit berisiko dibandingkan dengan metode langsung, dan lebih murah dibandingkan dengan metode paralel.

Segala kesalahan dapat dilokalisir dan dikoreksi sebelum implementasi lebih jauh dilakukan. Apabila sistem baru melibatkan prosedur baru dan perubahan yang drastis dalam hal perangkat lunaknya, metode pilot ini akan lebih cocok digunakan.

Selain berfungsi sebagai tempat pengujian (test sité), sistem pilot juga digunakan untuk melatih pemakai seluruh organisasi dalam menghadapi lingkungan “live” (hidup atau sebenarnya) sebelum system tersebut diimplementasikan di lokasi mereka sendiri.

Gambar 4. Konversi Pilot

Daftar Pustaka

Al Fatta, Hanif. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Untuk Keunggulan Bersaing Perusahaan dan Organisasi. Penerbit Andi .September 2007. Yogyakarta

http://irondey.blogspot.com/2010/10/cara-dalam-pengkonversian-system.html

http://indra-swandana.blogspot.com/2010/06/konversi-sistem-baru.html

Outsourcing

Definisi outsourcing adalah pendelegasian operasi dan manajemen operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (pihak perusahaan outsourcing). Adapun definisi yang lain adalah penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang professional dan berkelas dunia. Adapun hal-hal yang didelegasikan dalam outsourcing adalah suatu fungsi dan proses bisnis tertentu untuk disisipkan dalam operasional bisnis perusahaan secara keseluruhan outsourcing mempengaruhi suatu organisasi secara keseluruhan dalam hal bentuk organisasi, pekerja, cara operasional, serta cara pengukuran.

Outsourcing memberikan keuntungan jangka panjang sebagai berikut :

1.      Menigkatkan fokus bisnis perusahaan

Outsourcing memungkinkan perusahaan fokus pada bisnis inti dengan skala yang lebih luas. Pelaksanaan operasional lainnya dilakukan oleh perusahaan outsourcing yang telah berpengalaman di bidangnya. Dengan melakukan outsourcing maka perusahaan dapat berkonsentrasi secara penuh dalam menangani bisnis intinya.

2.      Masuk pada kemampuan kelas dunia

Secara mendasar, perusahaan penyedia jasa outsourcing akan membawa kelanjutan sumber-sumber kelas dunia untuk memenuhi keinginan. Perusahaan yang berhubungan dengan suatu organisasi dengan kemampuan keals dunia akan memungkinkan akses pada teknologi barum perlatan serta teknik yang belum dipergunakan sebelumnya, termasuk :

  • Kesempatan berkarir yang lebih baik untuk personil yang pindah ke perusahaan penyedia jasa outsourcing
  • Metode, prosedur, dan dokumentasi yang lebih terstruktur
  • Keuntungan dalam berkompetisi melalui keahlian lebih dari perusahaan penyedia outsourcing

3.      Mempercepat keuntungan dari re-engeenering (teknologi baru)

Outsourcing sering dilakukan dengan  re-engeenering proses bisnis. Perusahaan penyedia jasa biasanya melengkapi layanannya dengan peralatan modern karena kebutuhan akan kapasitas kerjanya. Dalam hal ini, perusahaan pemakai jasa akan segera mendapatkan keuntungan re-engeenering.

4.      Membagi resiko usaha

Pada kenyataannya, terdapat risiko investasi yang sangat besar dari suatu perusahaan, terutama pada kondisi politik dan social ekonomi tertentu sebagai berikut:

  • Dengan melakuikan Outsourcing, perusahaan menjadi lebih fleksibel, lebih dinamis, dan lebih baik. Perusahaan dapat melkukan perubahan dengan cepat untuk memenuhi perubahan kesempatan sesuai kondisi yang ada
  • Dengan melakukan Outsourcing, segala risiko pekerjaaan, ketenagakerjaanm kriminalitas, dan risiko lainnya menjadi risiko perusahaan penyedia jasa Outsourcing

5.      Menggunakan sumber-sumber yangada untuk aktivitas yang lebih strategis

Dengan melakukan Outsourcing maka segala kegiatan yang bukan merupakan bisnis inti perusahaan tidak akan menjadi beban lagi. Segala sumber yang ada dapat didokuskan pada bisnis inti, seperti aktivitas memerikan layanan lebih kepada nasabah dan lain-lain.

Alasan taktikal sebagai keuntungan jangka pendek melakukan Outsourcing adalah sebagai berikut :

1.      Membuat tersedianya dan mengendalikan biaya-biaya operasional

Dengan melakukan Outsourcing, biaya-biaya operasional akan menjadi beban perusahaan Outsourcing. Perusahan Outsourcing akan membebankan perusahaan pemakai jasa dengan tariff yang ditentukan setiap bulannya, biasanya biaya menjadi lebiuh murah karena kapasitas yang dikerjakan memungkinkan terciptanya efisiensi. Akibatnya, perusahan tertentu dalam mengendalikan biaya operasional dari kebocoran/kecurangan.

2.      Membuat tersedianya dana-dana modal

Outsourcing mengurangi kebutuhan invesasi dana pada fungsi-fungsi selain bisnis inti. Upaya tersebut akan memungkinakn dana-dana modal tersedia untuk area bisnis inti. Outsourcing juga dapat menyempurnakan pengukuran keuangan tertentu dengan menghapuskan kebutuhan ROE (return on equity) dari investasi dana diluar bisnis inti.

3.      Menghasilkan pemasukan dana tunai

Outsourcing dapat melibatkan transfer aset dari pemakai jasa kepada penyedia jasa. Peralatan, fasilitas, kendaraan, danb lisesnsi yang dipergunakan untuk operasi pada saat itu mempunyai nilai. Sebagai efeknya, penjualan aset kepada penyedia jasa tersebut merupakan bagian dari transaksi yang menghasilkan pemasukan dana tunai

4.      Sumber daya tidak perlu tersedia secara internal

Perusahaan-perusahaan dapat melakukan Outsourcing karena mereka tidak dapat memenuhi sumber daya diorganisasinya. Ketidak mampuan maerekan mungkin disebabakan oleh biaya yang terlalu besar untuk pemenuhan sumber daya (manusia, teknologi, dan lain-lain).

5.      Pemberdayaan fungsi yang sulit diatur atau diluar kendali

Outsourcing merupakan suatu alternative untuk mnyelesaikan dan memberdayakan fungsi yang sulit diatur atau diluar kendali. Dengan melakuakan Outsourcing, fungsi-fungsi diluar bsinis inti akan ditangani oleh perusahaan yang professional dibidangnya.


Insourcing

Pendekatan in-sourcing merupakan kebalikan dari out-sourcing. Jika out-sourcing melimpahkan pengerjaan proyek pada pihak ketika, in-sourcing mengembangan proyek dengan memanfaatkan spesialis IT dalam perusahaan tersebut. Contohnya perusahaan tekstil dari Jepang membuka perusahaan di Indonesia dengan alasan karena gaji orang Indonesia dapat lebih rendah dari gaji pegawai Jepang. Pada kasus ini perusahaan di Jepang melakukan out-sourcing sedangkan perusahaan Jepang yang ada di Indonesia melakukan in-sourcing.

Keuntungan pengembangan sistem informasi atau proyek lain dengan menggunakan pendekatan in-sourcing adalah :

  1. Perusahaan dapat mengontrol sistem informasinya sendiri.
  2. Biaya untuk pekerja dalam perusahaan biasanya lebih kecil daripada biaya untuk pekerja outsource.
  3. Mengurangi biaya operasional perusahaan, seperti transport, dll.

Selain keuntungan diatas, terdapat beberapa kelemahan menggunakan insourcing, yaitu perusahaan perlu memperhatikan masalah investasi dari pengembangan sistem informasi, jangan sampai pengembangan memakan waktu terlalu lama yang akan memangkas biaya lebih lagi.

Pada beberapa kasus, strategi outsourcing dibalik menjadi strategi insourcing. Beberapa perusahaan, seperti bank, sangat beruntung pada keandalan sistem TI mereka. Tidak ada lembaga keuangan yang sanggup bertahan terhadap gangguan atas sistem TI, meskipun hanya sebentar. Akibatnya, banyak bank yang memutuskan mengembalikan posisi manajemen TI ke dalam perusahaan inti. Mereka yakin perusahaan mengambil risiko yang terlalu besar dengan membiarkan kompetensi penting seperti itu dikelola dari luar dan hanya mempertahankan sedikti pengetahuan internal. Melakukan insourcing atau tidak bisa jadi merupakan keputusan yang sulit. Outsourcing, sebagai seubah strategi bisnis, cukup mudah dijelaskan—dan bisa diperlihatkan bahwa outsourcing menghasilkan penghematan biaya dan pengurangan aset. Sebaliknya, insourcing biasanya memperlihatkan biaya tambahan, menambah jumlah karyawan yang harus dibayar, dan mungkin saja menambah aset. Tidak mudah bagi manajer untuk menyetujui kebijakan yang didasarkan pada keuntungan nonfisik, seperti menurunkan kerentanan atau mempertahankan loyalitas konsumen. Namun, insourcing merupakan alternatif tambahan bagi masa depan daya saing perusahaan dan sangat mungkin dilakukan secara bersamaan dengan aktivitas outsourcing Gambar 1.



Gambar 1.  Insourcing adalah sebuah strategi alternatif. Ketika keandalan atau kepuasan konsumen menjadi perhatian, banyak perusahaan yang berpaking pada insourcing. Jika periferal di sekitar perusahan inti telah sangat diperluas sehingga kehilangan kontrol, perusahaan bisa membawa sebagian aktivitas penting kembalu ke, atau lebih dekat ke, bagian inti, dan melakjukan kontrak dengan periferal. Banyak bank yang membawa kembali bagian TI, dan sebagian pusat informasi juga dijadikan insourcing sebagai akibat dari reaksi kurang baik konsumen. Namun, insourcing tetap merupakan pengecualian dan tidak akan menggantikan outsourcing secara keseluruhan. Seperti sebuah akordeon, kedua stategi dilakukan secara bersamaan agar perusahaan bisa melakukan perluasan dan kontrak dengan periferal sesuai kondisi pasar.

Strategi outsourcing telah menciptakan ketegangan yang signifikan antara perusahaan dan negara, terutama ketika hal itu memengaruhi tenaga kerja. Dalam banyak kasus, pengalihan aset kepada mitra berarti hilangnya pekerjaan di perusahaan inti dan berkurangnya kondisi kerja yang menguntungkan bagi karyawan yang dialihkan. Jika mitranya ada di luar negri, pekerjaan bisa menghilang dari negara utsourcing memaksa karyawan untuk lebih mobile dan fleksibel. Banyak perusahaan yang menuntut kebebasan lebih besar dalam  mempekerjakan dan memecat karyawan, sesuai dengan Model Anglo-Saxon. Berbagai perusahaan juga telah mengembangkan pendekatan baru terhadap pekerjaan, seperti pekerjaan peruh waktu dan berbagai kerja. Masyarakat sudah  cenderung sulit menerima jika ada perusahaan yang mengurangi pekerja  ketika dihadapkan pada krisis ekonomi. Mereka benar-benar tidak memahami bahwa perusahaan menghentikan pekerjaan demi meningkatkan efisiensi dan keuntungan. Dalam kondisi seperti ini, manajemen senior mengalami kesulitan untuk membuktikan kepada karyawan, dan opini publik pada umumnya, bahwa apa yang dilakukan perusahaan bisa menjadi upaya untuk bertahan di masa mendatang

Daftar Pustaka

http://jhohandewangga.wordpress.com/2010/12/08/outsourching/

http://rofiqelbetawi.wordpress.com/2010/11/18/sistem-informasi-manajemen/

Tahap Pengembangan Software

Dalam dunia perangkat lunak, dikenal istilah Software Development Cycle (atau dalam beberapa kamus/ensiklopedi, ditulis Software Release Life Cycle). Istilah ini mengacu pada tahapan-tahapan munculnya sebuah perangkat lunak mulai dari prototip hingga bentuk jadi. Istilah ini digunakan untuk menandai suatu perjalanan proyek yang biasa disebut “milestone“. Proses pengembangan perangkat lunak pun dibagi menjadi beberapa bagian. Saya akan menjelaskan satu per satu tahapan tersebut.Pre-Alpha

Tahap awal ini biasanya adalah tahap analisa, desain sistem, dan testing fungsi-fungsi awal yang akan digunakan. Tahap ini biasanya tidak di-release ke publik dan hanya beberapa (sedikit) orang saja yang mengetahuinya. Biasanya tim pengembang perangkat lunak tersebut dan beberapa orang atau tim lain yang terkait dengannya. Tahap ini seperti seorang arsitek yang mempresentasikan gambar desainnya dan seorang kontraktor yang memperkirakan biayanya.

Alpha

Tahap Alpha dari sebuah perangkat lunak biasanya sudah siap dasar-dasarnya (seperti Anda membangun rumah, versi Alpha ini adalah kerangka dari rumah yang Anda buat, seperti pondasi, tiang, atap, dsb.). Versi ini kadang di release ke publik, tapi kebanyakan di release ke internal terlebih dahulu, dengan cakupan tester yang lebih luas dari versi sebelumnya, Pre-Alpha. Versi ini seperti Anda memiliki rumah yang telah jadi, namun apa adanya. Belum ada hiasan, lukisan, AC, asesoris, dan sebagainya. Polos. Tahap ini, para alpha-tester mencoba mengetes sejauh mana perangkat lunak tersebut stabil dan dapat berjalan sebagaimana mestinya (tahap ini juga menguji kemampuan error-handling dari software yang bersangkutan).

Pada tahap ini dikenal istilah white box techniques dan black box techniques. Jika sebuah aplikasi perangkat lunak telah memasuki tahap black box, itu artinya aplikasi tersebut berada dalam tahap alpha-release.

Beta

Aplikasi yang telah memasuki tahap Beta, berarti aplikasi tersebut telah lolos dari tahap Alpha dan tinggal satu tahap lagi untuk dilempar dan di tes ke pasaran (dalam bentuk terbatas). Aplikasi tahap Beta biasanya merupakan prototip aplikasi yang sudah jadi yang nantinya akan dilempar ke pasaran/end user. Versi Beta ini pun biasanya sudah tersedia secara publik dan dapat di download. Secara umum, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara versi Beta dengan versi penuh (full release). Perbedaannya biasanya hanya terletak pada bug-bug yang ada di dalamnya.

Programmer, developer, atau pengguna yang menggunakan versi Beta lalu memberikan umpan balik (feedback) terhadap aplikasi tersebut disebut beta testers. Mereka, orang-orang itu, sangat berjasa dalam membuat sebuah aplikasi menjadi stabil dan bebas error. Itulah mengapa nama-nama beta-testers ini selalu disertakan dalam tempat khusus pada aplikasi (biasanya bagian About) untuk menghargai jasa besar mereka.

Release Candidate (RC)

Dahulu, biasanya aplikasi akan langsung diterjunkan ke pasaran dan digunakan oleh semua pengguna (end user) sebagai produk versi penuh (full version) jika telah melewati tahap Beta. Saat ini, semakin pesatnya perkembangan teknologi dan semakin terkoneksinya seluruh developer di seluruh dunia, pengembang aplikasi perangkat lunak menambahkan satu lagi tahapan akhir sebelum sebuah aplikasi benar-benar dilepas ke pasaran: Release Candidate.

Anda pasti sudah bisa menebak makna dari tahap ini. Aplikasi yang telah mengantongi embel-embel ini (RC, seperti Windows 7 di awal), biasanya sama persis dengan versi penuh yang akan di release di kemudian hari. Dua hal yang menjadi fokus utama dari RC ini adalah kestabilan dan masalah keamanan. Setiap pengembang berbeda-beda dalam penomorannya. Satu pengembang mungkin hanya butuh sekali RC saja (misal Microsoft), sedangkan beberapa pengembang lain membutuhkan tiga sampai empat tahap RC (seperti Mozilla).

Final Release

Inilah tahap akhir dari pengembangan aplikasi perangkat lunak. Semua orang menikmati kestabilannya dan keamanannya. Windows yang Anda gunakan sekarang, browser, aplikasi perkantoran (office), mail client, pengolah citra (foto/gambar), dan sebagainya. Anda jarang, atau bahkan tak pernah, dipusingkan dengan error sana-sini. Semua fungsi serta menu berjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya. Kehidupan Anda menjadi semakin mudah karena aplikasi release ini.

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Pengembangan sistem informasi manajemen dilakukan melalui beberapa tahap, dimana masing-masing langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci dari tahap sebelumnya. Tahap awal dari pengembangan sistem umumnya dimulai dengan mendeskripsikan kebutuhan pengguna dari sisi pendekatan sistem rencana stratejik yang bersifat makro, diikuti dengan penjabaran rencana stratejik dan kebutuhan organisasi jangka menengah dan jangka panjang, lazimnya untuk periode 3 sampai 5 tahun. Masukan (input) utama yang dibutuhkan dalam tahap ini mencakup:
• Kebutuhan stratejik organisasi
• Aspek legal pendukung organisasi
• Masukan kebutuhan dari pengguna

Sistem stratejik dijabarkan dalam:
1. Visi dan Misi; Strategi pengembangan sistem membutuhkan keputusan politis dari pimpinan tertinggi yang telah dijabarkan dalam strategi aktivitas organisasi.
2. Analisis Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi dan kompetensi yang dimiliki. Analisis Tupoksi akan mengarah pada seberapa jauh pencapaian kinerja organisasi dapat dicapai, dengan menggunakan trend-trend penting, risiko-risiko yang harus dihadapi dan potensi peluang yang dimiliki (menggunakan analisis SWOT).
Analisa kompetensi akan memberikan gambaran yang lengkap mengenai efektivitas organisasi yang dapat dilihat dari 4 hal yaitu: sumberdaya, infrastruktur, produk layanan/jasa dan kepuasan pelanggan/ masyarakat yang dilayani.

Tahap-tahap Pengembangan Sistem

1.Tahap Perencanaan

Tahap ini merupakan suatu rangkaian kegiatan sejak ide pertama yang melatarbelakangi pelaksanaan pengembangan sistem tersebut dilontarkan. Dalam tahap perencanaan pengembangan sistem harus mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan merencanakan
proyek-proyek besar lainnya, seperti perencanaan pengadaan perangkat jaringan teknologi informasi (TI), rencana membangun gedung kantor 15 tingkat. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh jika proyek pengembangan sistem informasi direncanakan secara matang, mencakup:
– Ruang lingkup proyek dapat ditentukan secara jelas dan tegas. Unit organisasi, kegiatan ataun sistem yang mana yang akan dilibatkan dalam pengembangan ini? unit mana yang tidak dilibatkan? Informasi ini memberikan perkiraan awal besarnya sumber daya yang diperlukan.
– Dapat mengidentifikasi wilayah/area permasalahan potensial. Perencanaan akan menunjukkan hal-hal yang mungkin bisa terjadi suatu kesalahan, sehingga hal-hal demikian dapat dicegah sejak awal.

– Dapat mengatur urutan kegiatan. Banyak sekali tugas-tugas terpisah dan harus berjalan secara bersamaan/paralel yang diperlukan untuk pengembangan sistem. Tugas-tugas ini diatur dalam urutan logis berdasarkan prioritas informasi dan kebutuhan untuk efisiensi.
– Tersedianya sarana pengendalian. Tingkat pengukuran kinerja harus dipertegas sejak awal.

2.Tahap Analisis

Ada dua aspek yang menjadi fokus tahap ini, yaitu aspek bisnis atau manajemen dan aspek teknologi. Analisis aspek bisnis mempelajari karakteristik organisasi yang bersangkutan. Tujuan dilakukannya langkah ini adalah untuk mengetahui posisi atau peranan teknologi informasi yang paling sesuai dan relevan di organisasi dan mempelajari fungsi-fungsi manajemen dan aspek-aspek bisnis terkait yang akan berpengaruh atau memiliki dampak tertentu terhadap proses desain, konstruksi, dan implementasi.

Selama tahap analisis, sistem analis terus bekerjasama dengan manajer, dan komite pengarah SIM terlibat dalam titik-titik yang penting mencakup kegiatan sebagai berikut:
a. Menetapkan rencana penelitian sistem

b. Mengorganisasikan tim proyek

c. Mendefinisikan kebutuhan informasi

d. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem

e. Menyiapkan usulan rancangan sistem

f. Menyetujui atau menolak rancangan proyek pengembangan sistem

Keluaran dari proses analisis di kedua aspek ini adalah masalahmasalah penting yang harus segera ditangani, analisis penyebab dan dampak permasalahan bagi organisasi, beberapa kemungkinan skenario pemecahan masalah dengan kemungkinan dan dampak risiko serta potensinya, dan pilihan alternatif solusi yang direkomendasikan.

3.Tahap Perancangan/Desain

Pada tahap ini, tim teknologi informasi bekerja sama dengan tim bisnis atau manajemen melakukan perancangan komponen-komponen sistem terkait. Tim teknologi informasi akan melakukan perancangan teknis dari teknologi informasi yang akan dibangun, seperti system basis data, jaringan komputer, teknik koversi data, metode migrasi sistem, dan sebagainya.
Sementara itu, secara paralel dan bersama-sama tim bisnis atau manajemen, dan tim teknologi informasi akan melakukan perancangan terhadap komponen-komponen organisasi yang terkait.

4. Tahap Pembangunan Fisik/Konstruksi

Berdasarkan desain yang telah dibuat, konstruksi atau pengembangansistem yang sesungguhnya (secara fisik) dibangun. Tim teknis merupakan tulang punggung pelaksanaan tahap ini, mengingat semua hal yang bersifat konseptual harus diwujudkan dalam suatu konstruksi teknologi informasi dalam skala yang lebih detail. Dari semua tahapan yang ada, tahap konstruksi inilah yang biasanya paling banyak melihatkan sumber daya terbesar, terutama dalam hal penggunaan SDM, biaya, dan waktu. Pengendalian terhadap manajemen proyek pada tahap konstruksi harus diperketat agar penggunaan sumber daya dapat efektif dan efisien. Bagaimanapun, hal ini akan berdampak terhadap keberhasilan proyek sistem informasi yang diselesaikan secara tepat waktu. Akhir dari tahap konstruksi biasanya berupa uji coba atas sistem informasi yang baru dikembangkan.

5.Tahap Implementasi

Tahap implementasi merupakan tahap yang paling kritis karena untuk pertarna kalinya sistem informasi akan dipergunakan di dalam organisasi. Ada berbagai pendekatan untuk implementasi sistem yang baru didesain. Pekerjaan utama dalam implementasi sistem biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Merencanakan waktu yang tepat untuk implementasi

b. Mengumumkan rencana implementasi

c. Mendapatkan sumberdaya perangkat keras dan lunak

d. Menyiapkan database

e. Menyiapkan fasilitas fisik

f. Memberikan pelatihan dan workshop

g. Menyiapkan saat yang tepat untuk cutover (peralihan sistem)

h. Penggunaan sistem baru

Pemberian pelatihan (training) harus diberikan kepada semua pihak yang terlibat sebelum tahap implementasi dimulai. Selain untuk mengurangi risiko kegagalan, pemberian pelatihan juga berguna untuk menanamkan rasa memiliki terhadap sistem baru yang akan diterapkan. Dengan cara ini, seluruh jajaran pengguna akan dengan mudah menerima sistem tersebut dan memeliharanya dengan baik di masa-masa mendatang.

6.Tahap Pasca Implementasi

Pengembangan sistem informasi biasanya diakhiri setelah tahap implementasi dilakukan. Namun, ada satu tahapan lagi yang harus dijaga dan diperhatikan oleh manajemen, yaitu tahap pasca implementasi. Kegiatan yang dilakukan di tahap pasca implementasi adalah bagaimana pemeliharaan sistem akan dikelola.

Seperti halnya sumber daya yang lain, sistem informasi akan mengalami perkembangan di kemudian hari. Hal-hal seperti modifikasi sistem, berpedoman ke sistem lain, perubahan hak akses sistem, penanganan terhadap fasilitas pada sistem yang rusak, merupakan contoh dari kasus-kasus yang biasanya timbul dalam pemeliharaan sistem. Disinilah diperlukan dokumentasi yang memadai dan pemindahan pengetahuan dari pihak penyusun sistem ke pengguna untuk menjamin terkelolanya dengan baik proses-proses pemeliharaan sistem.

Dari perspektif manajemen, tahap pasca-implementasi adalah berupa suatu aktivitas di mana harus ada personil atau divisi yang dapat melakukan perubahan atau modifikasi terhadap sistem informasi sejalan dengan perubahan kebutuhan bisnis yang dinamis.

Metode Pengembangan Perangkat Lunak

Metode-metode pengembangan perangkat lunak yang ada pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode fungsi/data (function data methods) dan metode berorientasi objek (object-oriented methods). Pada intinya, metode fungsi/data memberlakukan fungsi dan data secara terpisah. Motode berorientasi objek memberlakukan fungsi dan data secara ketat sebagai satu kesatuan.
Metode fungsi/data membedakan fungsi dan data. Fungsi, pada prinsipnya, adalah aktif dan memiliki perilaku, sedangkan data adalah pemegang informasi pasif yang dipengaruhi oleh fungsi. Sistem biasanya dipilah menurut fungsi, di mana data dikirim di antara fungsi-fungsi tersebut. Fungsi kemudian dipilah lebih lanjut dan akhirnya diubah menjadi kode sumber (program komputer).
Sistem yang dikembangkan dengan metode fungsi/data sering sulit pemeliharaannya. Problem utama dengan metode fungsi/data adalah bahwa seluruh fungsi harus paham bagaimana data disimpan. Dengan kata lain, fungsi harus paham struktur datanya. Seringkali, dalam hal-hal tertentu, tipe data yang berbeda memiliki format data yang sangat berbeda. Problem lain dalam metode fungsi/data adalah bahwa manusia secara alami tidak berfikir secara terstruktur. Dalam kenyataannya, spesifikasi kebutuhan biasanya diformulasikan dalam bahasa manusia.
Metode berorientasi-objek mencoba menstrukturkan sistem dari item-item yang ada dalam domain masalah. Metode ini biasanya sangat stabil dan perubahannya sangat sedikit Perubahan yang terjadi biasanya mempengaruhi hanya satu atau sedikit hal tertentu, yang artinya
perubahan yang dibuat hanya terjadi secara lokal di sistem.

Daftar Pustaka

http://www.sami09.web.id/?p=231

http://abdee-joy.blogspot.com/2010/12/pengembangan-sistem-informasi.html

Rosemary Cafasaro dalam O’Brien (2005) menyatakan beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan atau kegagalan penerapan sistem informasi dalam suatu organisasi/perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan tersebut antara lain karena adanya dukungan dari manajemen eksekutif, keterlibatan end-user (pemakai akhir), penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang dan harapan perusahaan yang nyata. Beberapa hal yang menunjukkan penyebab kegagalan berdasarkan faktor-faktor tersebut adalah ketika pihak manajemen eksekutif tidak mendukung sistem evaluasi dan pengambilan keputusan dalam perusahaan, sehingga dapat menimbulkan ‘komando’ yang membingungkan, dari pihak end user diharapkan timbal-balik atas apa yang telah diterima sebagai bahan evaluasi. Pengembangan sistem informasi sebagai salah satu sarana pencapaian tujuan perusahaan, sehingga keduanya harus relevan, serta perlu disiapkan dengan baik dan matang. Selain itu, perusahaan harus memiliki harapan yang nyata, yaitu yang ingin dicapai dan berusaha dalam meraihnya, sehingga efektivitas dari pengembangan atau penerapan sistem informasi dapat terjadi.

KEGAGALAN SISTEM INFOMASI PERUSAHAAN

Kegagalan sistem infomasi perusahaan mencakup proyek yang ditinggalkan sebelum penerapan atau diterapkan begitu gagal sehingga organisasi kembali  ke sistem infomasi yang dahulu . Ini merupakan biaya yang buruk karena organisasi umumnya telah menginvestasikan jutaan dolar dan banyak jam kerja dalam proyek SIM perusahaan . Namun kegagalan system informasi perusahaan tidak berarti bahwa organisasi menyerah sepenuhnya .Organisasi tersebut dapat mencoba lagi .

Organisasi dapat meminimalkan kemungkinan kegagalan SIM perusahaan dengan mengambil langkah-langkah:

  • Mengerti kerumitan organisasi
  • Mengenali proses yang dapat menurun nilainya bila standarisasi dipaksakan
  • Mencapai consensus dalam organisasi sebelum memutuskan menerapkan system informasi perusahaan

Selain faktor-faktor penyebab kegagalan menurut Rosemary Cafasaro, ada beberapa faktor yang juga harus diperhatikan dalam pengembangan sistem informasi di perusahaan

Faktor-faktor serta Indikator yang Menunjukkan Gagalnya SIM dalam Organisasi/Perusahaan

1. Faktor-faktor yang menyebabkan SIM kurang berkembang dalam organisasi/perusahaan

Dengan adanya SIM ini, sebuah perusahaan mengharapkan suatu sistem yang dapat bekerja secara cepat dan akurat sehingga produktivitas kerja di perusahaan lebih meningkat. Namun karena beberapa faktor tertentu, terkadang malah perusahaan mengalami kegagalan.

Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. Banyak organisasi yang gagal membangun SIM karena :

  1. Pengorganisasian perusahaan yang kurang wajar
  2. Kurangnya perencanaan yang memadai
  3. Kurang personil yang handal
  4. Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.

Untuk meraih keberhasilan dalam pengembangan SIM, perlu diperbaikinya system lama, terutama jika disebabkan beberapa hal berikut ini,

1. Adanya permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama. Permasalahan yang timbul dapat berupa :

  • Ketidakberesan sistem yang lama

Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan.

  • Pertumbuhan organisasi

Kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan data semakin meningkat, perubahan prinsip akuntansi yang baru menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru, karena sistem yang lama tidak efektif lagi dan tidak dapat memenuhi lagi semua kebutuhan informasi yang dibutuhkan manajemen.

2. Untuk meraih kesempatan-kesempatan

Dalam keadaan persaingan pasar yang ketat, kecepatan informasi atau efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatankesempatan dan peluang-peluang pasar, sehingga teknologi informasi perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi agar dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen.

3. Adanya instruksi dari pimpinan atau adanya peraturan pemerintah

Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksi instruksi dari atas pimpinan ataupun dari luar organisasi, seperti misalnya peraturan pemerintah

2. Indikator Diperlukannya Pengembangan SIM

1. Keluhan pelanggan

2. Pengiriman barang yang sering tertunda

3. Pembayaran gaji yang terlambat

4. Laporan yang tidak tepat waktu

5. Isi laporan yang sering salah

6. Tanggung jawab yang tidak jelas

7. Waktu kerja yang berlebihan

8. Ketidakberesan kas

9. Produktivitas tenaga kerja yang rendah

10. Banyaknya pekerja yang menganggur

11. Kegiatan yang tumpang tindih

12. Tanggapan yang lambat terhadap pelanggan

13. Kehilangan kesempatan kompetisi pasar

14. Persediaan barang yang terlalu tinggi

15. Pemesanan kembali barang yang tidak efisien

16. Biaya operasi yang tinggi

17. File-file yang kurang teratur

18. Keluhan dari supplier karena tertundanya pembayaran

19. Tertundanya pengiriman karena kurang persediaan

20. Investasi yang tidak efisien

21. Peramalan penjualan dan produksi tidak tepat

22. Kapasitas produksi yang menganggur

23. Pekerjaan manajer yang terlalu teknis

24. DLL.

SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.

Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang.

Daftar Pustaka:

http://wenythepooh.wordpress.com/2010/11/01/corporate-information-management-cim/

http://awan01.blogspot.com/2010/12/sistem-informasi-manajemen-pada.html

Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi di dunia maya saat ini, dimana segala kegiatan dalam kehidupan sehari-hari akan berbasis komputer. Maka dalam suatu instansi,komputer merupakan alat kebutuhan dalam menciptakan dan memperoleh serta memproses suatu sistem informasi yang setiap saat akan selalu berkembang. Oleh karena itu setiap orang harus mampu berupaya mengikuti arus informasi yang berkembang di dunia teknologi ini. Pada instansi perusahaan manapun saat ini pastilah menggunakan Sistem Informasi Manajemen yaitu sebuah sistem manusia ataupun mesin yang terpadu (integrated), untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan. Pada perusahaan, sistem informasi yang umum digunakan adalah Corporate Information Management (CIM) .

Corporate Information Management (CIM)  adalah suatu sistem berbasis komputer yang dapat melakukan semua tugas akuntansi standar bagi semua unit organisasi secara terintegrasi dan terkoordinasi. CIM Merupakan Platform teknologi yang bisa menyatukan semua informasi dari berbagai bagian menjadi satu informasi secara logical, sehingga perusahaan/organisasi mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan mudah

Terdapat 6 dimensi dalam CIM ini, yaitu :

1.   Pembentukan strategi

Perusahaan dihadapi dengan kumpulan informasi yang dihasilkan dari informasi-informasi luar. Kekayaan potensi untuk mengidentifikasi kecenderungan perubahan. Manajemen informasi perusahaan bertanggung jawab untuk mengidentifikasi sumber-sumber informasi eksternal yang terpercaya dan relevan dan membangun sistem kesadaran dan respon yang memungkinkan perusahaan memantau perkembangan dan memberikan tindakan yang sesuai dari informasi yang didapatkan.

2.   Perencanaan untuk Kebutuhan masa depan

Perubahan telah menjadi bagian yang wajar dari bisnis. Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk merubah cara bisnis mereka bahwa akan ada kebutuhan informasi yang baru juga. Sebuah bisnis baru perlu diperhatikan dan memerlukan informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Inisiatif strategi baru juga membawa banyak risiko. Maka dari itu, kunci keberhasilan pelaksanaan inisiatif strategis adalah terlabeh dahulu merencanakan untuk mendapatkan informasi yang baru.

3.   Meningkatkan nilai utilitas informasi yang tersedia

Bisnis didukung oleh siklus hidup informasi. Nilai utilitas informasi didasarkan pada apakah informasi tersebut dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses operasional. Utilitas merupakan fungsi dari relevansi, akurasi, kelengkapan dan ketepatan waktu dimana informasi ini tersedia pada saat dibutuhkan. Pada dasarnya manajemen informasi perusahaan menjamin keterhubungan antara bisnis dan teknologi informasi untuk memastikan bahwa informasi yang tersedia untuk kelancaran proses bisnis.

4.   Menghilangkan informasi yang berlebihan

Keburukan dari era informasi adalah kelebihan informasi. Di hampir setiap perusahaan masih ada software yang bekerja dan membuat laporan yang berlebihan. Seharusnya dapat mendefinisikan mana informasi yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Dengan pengurangan informasi yang tidak perlu dapat mengurangi biaya teknologi informasi yang sia-sia.

5.   Memastikan kepatuhan terhadap undang-undang

Legislasi menuntut bahwa suatu perusahaan harus melindungi informasi klien dari penyalahgunaan. Undang-undang lainnya untuk mengamankan hak pemegang saham mendapatkan informasi yang berkualitas. Manajemen Informasi Perusahaan harus terus menerus memastikan bahwa semua langkah berada di jalur nya dengan mematuhi undang-undang yang ada.

6.   Meningkatkan laba atas investasi di teknologi informasi

Pengembalian investasi menunjukkan peningkatan jumlah pendapatan yang dihasilkan, penurunan biaya teknologi informasi dan pengurangan risiko bisnis. Manajemen informasi perusahaan memastikan bahwa setiap potensi sumber daya teknologi informasi adalah sepenuhnya dieksploitasi oleh bisnis. Sebuah value driver utama bagi manajemen informasi perusahaan adalah untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh informasi di perusahaan dengan memastikan bahwa informasi yang cukup terlindung dari penyalahgunaan.

Komponen Dalam CIM / Corporate information Management

Dalam penerapannya, CIM terbagi dalam 2 komponen. Komponen ini merupakan isi dari sebuah CIM. Dipakai untuk mengumpulkan informasi informasi, mengolah data dan yang berguna bagi perusahaan.

Komponen fungsional CIM:

  • Administrasi dan Operasional : melakuka kegiatan rutin prosedur yang ada
  • Database : penyimpanan informasi dan data
  • Pelaporan manajemen : penyampaian laporan secara periodik
  • Sistem Pencarian : bentuk informasi secara tak terstruktur
  • Manajemen Data : menghubungkan komponen dengan database yang ada.

Komponen Fisik CIM :

  • Hardware dan Software : perangkat umum yang digunakan perusahaan
  • Database : media yang digunakan sebagai penyimpan data dan informasi
  • Prosedur pengoperasian : instruksi operasional
  • Personalia pengoperasian : Personil dalam perusahaan.

Menurut perusahaan modern, tidak cukup jika hanya memiliki strategi bisnis saja untuk menghadapi persaingan dewasa ini. Strategi bisnis yang biasa dituangkan dalam blueprint Business Plan harus dilengkapi dengan Sistem Informasi Strategik dengan tujuan untuk memanfaatkan secara optimum penggunaan Teknologi Informasi sebagai komponen utama sistem Informasi Perusahaan (sistem yang terdiri dari komponen-komponen untuk melakukan pengolahan data dan pengiriman informasi hasil pengolahan ke fungsi-fungsi organisasi terkait). Tantangan yang dihadapi para pengelola Teknologi Informasi pada umumnya adalah bagaimana mengendalikan Teknologi Informasi sebagai sumber daya perusahaan sehingga dapat menyajikan informasi sesuai yang dibutuhkan perusahaan, bagaimana mengelola resiko dan mengamankan infrastruktur Teknologi Informasi yang menjadi hidup-matinya operasional perusahaan.

Evolusi Strategy Informasi

  • Tahap I : Eksploitasi Kapabilitas Lokal

Tujuan dari dilakukannya tahap ini adalah untuk memahami secara sungguh-sungguh batasan maksimal kemampuan sistem informasi dalam menghasilkan kebutuhan manajemen strategis dan operasional organisasi yang bersangkutan – baik dilihat dari segi keunggulannya maupun keterbatasannya.

  • Tahap 2 : Lakukan Integrasi Tak Tampak

Keluaran sesungguhnya dalam tahap ini adalah kepercayaan dan kesadaran akan perlunya kerjasama untuk memecahkan solusi.

  • Tahap 3 : Kehendak Berbagi Pakai

Pemanfaatan sumberdaya dalam organisasi

  • Tahap 4 : Redesain Arsitektur Proses

Keluaran dari tahap terberat ini adalah kesepakatan untuk melakukan kolaborasi secara lebih jauh, yaitu dengan memperhatikan nilai (atau value) dari pemegang kepentingan utama dari seluruh organisasi yang berkolaborasi.

  • Tahap 5 : Optimalkan Infrastruktur

Keluaran dari tahap optimaliasi ini adalah sebuah sistem informasi terpadu yang dapat bekerja secara efektif melayani kepentingan vertikal maupun horisontal.

  • Tahap 6 :Transformasi

yang dimaksud pada dasarnya merupakan akibat dari dinamika kebutuhan lingkungan eksternal organisasi yang memaksanya untuk menciptakan sebuah sistem organisasi yang adaptif terhadap perubahan apapun.

Daftar Pustaka

http://stefanuskaparang.wordpress.com/2010/11/17/informasi-dalam-manajemen-perusahaan/

http://toonoisyandloud.blogspot.com/2010/12/strategy-of-information-integration-sii.html

When i realized that i did the right things, why everyone hates me? and when i did the opposite why in the world everyone flatters on me. Rabbi,, hamba hanyalah seorang hamba, yang sering khilaf berdosa. Perlakuanku pada makhlukMu bukan untukMU. Perbuatanku dariMu pun bukan karenaMu. Perbaiki segala niat yang bukan untukMu, sadarkan hamba saat alpa, ingatkan hamba saat lalai. Tunjukkan kembali segala jalan lurus yang engkau telah perlihatkan kepadaku. Ampuni siapapun yang membenci hamba karenaMu, ampuni hamba saat mereka menyayangi hamba yang bukan karenaMU.

Outsourcing

Definisi outsourcing adalah pendelegasian operasi dan manajemen operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (pihak perusahaan outsourcing). Adapun definisi yang lain adalah penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang professional dan berkelas dunia. Adapun hal-hal yang didelegasikan dalam outsourcing adalah suatu fungsi dan proses bisnis tertentu untuk disisipkan dalam operasional bisnis perusahaan secara keseluruhan outsourcing mempengaruhi suatu organisasi secara keseluruhan dalam hal bentuk organisasi, pekerja, cara operasional, serta cara pengukuran.

Outsourcing memberikan keuntungan jangka panjang sebagai berikut :

1.      Menigkatkan fokus bisnis perusahaan

Outsourcing memungkinkan perusahaan fokus pada bisnis inti dengan skala yang lebih luas. Pelaksanaan operasional lainnya dilakukan oleh perusahaan outsourcing yang telah berpengalaman di bidangnya. Dengan melakukan outsourcing maka perusahaan dapat berkonsentrasi secara penuh dalam menangani bisnis intinya.

2.      Masuk pada kemampuan kelas dunia

Secara mendasar, perusahaan penyedia jasa outsourcing akan membawa kelanjutan sumber-sumber kelas dunia untuk memenuhi keinginan. Perusahaan yang berhubungan dengan suatu organisasi dengan kemampuan keals dunia akan memungkinkan akses pada teknologi barum perlatan serta teknik yang belum dipergunakan sebelumnya, termasuk :

  • Kesempatan berkarir yang lebih baik untuk personil yang pindah ke perusahaan penyedia jasa outsourcing
  • Metode, prosedur, dan dokumentasi yang lebih terstruktur
  • Keuntungan dalam berkompetisi melalui keahlian lebih dari perusahaan penyedia outsourcing

3.      Mempercepat keuntungan dari re-engeenering (teknologi baru)

Outsourcing sering dilakukan dengan  re-engeenering proses bisnis. Perusahaan penyedia jasa biasanya melengkapi layanannya dengan peralatan modern karena kebutuhan akan kapasitas kerjanya. Dalam hal ini, perusahaan pemakai jasa akan segera mendapatkan keuntungan re-engeenering.

4.      Membagi resiko usaha

Pada kenyataannya, terdapat risiko investasi yang sangat besar dari suatu perusahaan, terutama pada kondisi politik dan social ekonomi tertentu sebagai berikut:

  • Dengan melakuikan Outsourcing, perusahaan menjadi lebih fleksibel, lebih dinamis, dan lebih baik. Perusahaan dapat melkukan perubahan dengan cepat untuk memenuhi perubahan kesempatan sesuai kondisi yang ada
  • Dengan melakukan Outsourcing, segala risiko pekerjaaan, ketenagakerjaanm kriminalitas, dan risiko lainnya menjadi risiko perusahaan penyedia jasa Outsourcing

5.      Menggunakan sumber-sumber yangada untuk aktivitas yang lebih strategis

Dengan melakukan Outsourcing maka segala kegiatan yang bukan merupakan bisnis inti perusahaan tidak akan menjadi beban lagi. Segala sumber yang ada dapat didokuskan pada bisnis inti, seperti aktivitas memerikan layanan lebih kepada nasabah dan lain-lain.

Alasan taktikal sebagai keuntungan jangka pendek melakukan Outsourcing adalah sebagai berikut :

1.      Membuat tersedianya dan mengendalikan biaya-biaya operasional

Dengan melakukan Outsourcing, biaya-biaya operasional akan menjadi beban perusahaan Outsourcing. Perusahan Outsourcing akan membebankan perusahaan pemakai jasa dengan tariff yang ditentukan setiap bulannya, biasanya biaya menjadi lebiuh murah karena kapasitas yang dikerjakan memungkinkan terciptanya efisiensi. Akibatnya, perusahan tertentu dalam mengendalikan biaya operasional dari kebocoran/kecurangan.

2.      Membuat tersedianya dana-dana modal

Outsourcing mengurangi kebutuhan invesasi dana pada fungsi-fungsi selain bisnis inti. Upaya tersebut akan memungkinakn dana-dana modal tersedia untuk area bisnis inti. Outsourcing juga dapat menyempurnakan pengukuran keuangan tertentu dengan menghapuskan kebutuhan ROE (return on equity) dari investasi dana diluar bisnis inti.

3.      Menghasilkan pemasukan dana tunai

Outsourcing dapat melibatkan transfer aset dari pemakai jasa kepada penyedia jasa. Peralatan, fasilitas, kendaraan, danb lisesnsi yang dipergunakan untuk operasi pada saat itu mempunyai nilai. Sebagai efeknya, penjualan aset kepada penyedia jasa tersebut merupakan bagian dari transaksi yang menghasilkan pemasukan dana tunai

4.      Sumber daya tidak perlu tersedia secara internal

Perusahaan-perusahaan dapat melakukan Outsourcing karena mereka tidak dapat memenuhi sumber daya diorganisasinya. Ketidak mampuan maerekan mungkin disebabakan oleh biaya yang terlalu besar untuk pemenuhan sumber daya (manusia, teknologi, dan lain-lain).

5.      Pemberdayaan fungsi yang sulit diatur atau diluar kendali

Outsourcing merupakan suatu alternative untuk mnyelesaikan dan memberdayakan fungsi yang sulit diatur atau diluar kendali. Dengan melakuakan Outsourcing, fungsi-fungsi diluar bsinis inti akan ditangani oleh perusahaan yang professional dibidangnya.


Insourcing

Pendekatan in-sourcing merupakan kebalikan dari out-sourcing. Jika out-sourcing melimpahkan pengerjaan proyek pada pihak ketika, in-sourcing mengembangan proyek dengan memanfaatkan spesialis IT dalam perusahaan tersebut. Contohnya perusahaan tekstil dari Jepang membuka perusahaan di Indonesia dengan alasan karena gaji orang Indonesia dapat lebih rendah dari gaji pegawai Jepang. Pada kasus ini perusahaan di Jepang melakukan out-sourcing sedangkan perusahaan Jepang yang ada di Indonesia melakukan in-sourcing.

Keuntungan pengembangan sistem informasi atau proyek lain dengan menggunakan pendekatan in-sourcing adalah :

  1. Perusahaan dapat mengontrol sistem informasinya sendiri.
  2. Biaya untuk pekerja dalam perusahaan biasanya lebih kecil daripada biaya untuk pekerja outsource.
  3. Mengurangi biaya operasional perusahaan, seperti transport, dll.

Selain keuntungan diatas, terdapat beberapa kelemahan menggunakan insourcing, yaitu perusahaan perlu memperhatikan masalah investasi dari pengembangan sistem informasi, jangan sampai pengembangan memakan waktu terlalu lama yang akan memangkas biaya lebih lagi.

Pada beberapa kasus, strategi outsourcing dibalik menjadi strategi insourcing. Beberapa perusahaan, seperti bank, sangat beruntung pada keandalan sistem TI mereka. Tidak ada lembaga keuangan yang sanggup bertahan terhadap gangguan atas sistem TI, meskipun hanya sebentar. Akibatnya, banyak bank yang memutuskan mengembalikan posisi manajemen TI ke dalam perusahaan inti. Mereka yakin perusahaan mengambil risiko yang terlalu besar dengan membiarkan kompetensi penting seperti itu dikelola dari luar dan hanya mempertahankan sedikti pengetahuan internal. Melakukan insourcing atau tidak bisa jadi merupakan keputusan yang sulit. Outsourcing, sebagai seubah strategi bisnis, cukup mudah dijelaskan—dan bisa diperlihatkan bahwa outsourcing menghasilkan penghematan biaya dan pengurangan aset. Sebaliknya, insourcing biasanya memperlihatkan biaya tambahan, menambah jumlah karyawan yang harus dibayar, dan mungkin saja menambah aset. Tidak mudah bagi manajer untuk menyetujui kebijakan yang didasarkan pada keuntungan nonfisik, seperti menurunkan kerentanan atau mempertahankan loyalitas konsumen. Namun, insourcing merupakan alternatif tambahan bagi masa depan daya saing perusahaan dan sangat mungkin dilakukan secara bersamaan dengan aktivitas outsourcing Gambar 1.



Gambar 1.  Insourcing adalah sebuah strategi alternatif. Ketika keandalan atau kepuasan konsumen menjadi perhatian, banyak perusahaan yang berpaking pada insourcing. Jika periferal di sekitar perusahan inti telah sangat diperluas sehingga kehilangan kontrol, perusahaan bisa membawa sebagian aktivitas penting kembalu ke, atau lebih dekat ke, bagian inti, dan melakjukan kontrak dengan periferal. Banyak bank yang membawa kembali bagian TI, dan sebagian pusat informasi juga dijadikan insourcing sebagai akibat dari reaksi kurang baik konsumen. Namun, insourcing tetap merupakan pengecualian dan tidak akan menggantikan outsourcing secara keseluruhan. Seperti sebuah akordeon, kedua stategi dilakukan secara bersamaan agar perusahaan bisa melakukan perluasan dan kontrak dengan periferal sesuai kondisi pasar.

Strategi outsourcing telah menciptakan ketegangan yang signifikan antara perusahaan dan negara, terutama ketika hal itu memengaruhi tenaga kerja. Dalam banyak kasus, pengalihan aset kepada mitra berarti hilangnya pekerjaan di perusahaan inti dan berkurangnya kondisi kerja yang menguntungkan bagi karyawan yang dialihkan. Jika mitranya ada di luar negri, pekerjaan bisa menghilang dari negara utsourcing memaksa karyawan untuk lebih mobile dan fleksibel. Banyak perusahaan yang menuntut kebebasan lebih besar dalam  mempekerjakan dan memecat karyawan, sesuai dengan Model Anglo-Saxon. Berbagai perusahaan juga telah mengembangkan pendekatan baru terhadap pekerjaan, seperti pekerjaan peruh waktu dan berbagai kerja. Masyarakat sudah  cenderung sulit menerima jika ada perusahaan yang mengurangi pekerja  ketika dihadapkan pada krisis ekonomi. Mereka benar-benar tidak memahami bahwa perusahaan menghentikan pekerjaan demi meningkatkan efisiensi dan keuntungan. Dalam kondisi seperti ini, manajemen senior mengalami kesulitan untuk membuktikan kepada karyawan, dan opini publik pada umumnya, bahwa apa yang dilakukan perusahaan bisa menjadi upaya untuk bertahan di masa mendatang

Cosourcing

Pada era global yang menempatkan persaingan tak ada jalan lain kecuali terus mencari keunggulan. Untuk mendapatkan keunggulan tersebut, pebisnis harus bisa menciptakan perbedaan, baik produk maupun prosesnya. Salah satu cara untuk membuat perbedaan tersebut seperti tealh diulas sebelumnya adalah outsourcing. Perusahaan pengguna outsourcing bisa memenangkan persaingan, karena outsourcing bisa melahirkan dua keunggulan, yaitu menurunkan biaya produksi (pengguna professional dari luar jatuhnya bisa lebih murah daripada mempekerjakan karyawan secara permanen) dan memaksimalkan kapabilitas (professional mempunyai keahlian yang bisa diandalkan). 21% perusahan-perusahaan di AS dan 31% dari Kanada, telah melakukan outsourcing dan telah merasakan betapa nikmatnya memenangkan persaingan dengan memanfaatkan kedua keunggulan tersebut. Namun, menurutu hasil survey yang dilakukan Istitute of Internal Auditors (AS) pada awal 1998, menunjukkan bahwa 35% hingga 40% perusahaan-perusahaan di AS dan Kanada merencanakan tidak akan melakukan outsourcing, khususnya untuk melakukan pekejaan bidang internal audit. Pasalnya, dari surveu itu ditemukan dua kelemahan outsourcing. Pertama, dengan outsourcing manajemen kehilangan control sehari-hari terhadap bidang yang  dioutsourcingkan. Kedua, outsourcing bisa membuka rahasia perusahaan, terutama dalam bidang internal audit. Sebaba di bidang ini banyak tersimpan rahasia perusahaan, terutama dalam hal keunagan. Sebagai gantinya, mulai dipertimbangkan cosourcing. Cosourcing memang cara untuk membuat perbedan, guna mendapatkan keunggulan dalam bersaing yang datangya lebih belakangan dibanding outsourcing. Definisi operasional di luar perusahaan. Dlama penyerahan pekerjaan kepada outsider itu, perusahaan tidak serta merta menyerahkan seluruh pekerjaan kepada professional dan mem-PHK pekerja tetapnya. Perusahaan tetap menyertakan pekerjanya, untuk secara bersama-sama menjalankan pekerjaan. Sekalipun pekerjaan itu membutuhkan keahlian yang spesifik. Andai kata pekerjaan yang dikerjakan itu merupakan proyek, maka ketika selesai, perusahaan akan tatap mempertahankan pekerjanya dan memutuskan kontrak dengan partnernya. Bedanya dengan outsourcing adalah, pada cosourcing pekerja tetap yang dipartnerkan dengan professional terlibat aktif dalam pekerjaan sejak perencanaanm pengambilan keputusan dan da kemungkinan berpartisipasi dalam membuat laporan. Sebaliknya, pada outsourcing professional dating dengan keahlian yang spesifik, merencanakan. Mengerjakan, mengambil keputusan dan membuat laporan secara independen. Dengan cara melibatkan/menempatkan pekerja tetap mendampingi professional, maka perusahaan berharap bisa ikut mengontrol perkembangan pekerjaan dari waktu ke waktu dan menjaga agar rahasia perusahaan tidak bocor. Dua hal yang disebut terakhir merupakan kelemahan outsourcinh. Tentu saja dengan munculnya cosourcing, tidak berarti outsourcing ditinggalkan begtu saja. Cosourcing hanya menguntungkan untuk dilakukan pada bidang-bidang pekerjaan yang mengandung rahasia perusahaan. Sedang untuk bdang-bidang pekerjaan yang lain, keunggulan outsourcing—penurunan biaya produksi dan maksimaliasasi kapabilitas—masih dapat bekerja.

Yang popular saat ini untuk dicosourcingkan adalah bidang internal audit. Untuk masa-masa mendatang, nampaknya bidang teknologi informasi, misalnya menyangkut rumus-rumus kima dalam CD-Rom atau server, sudah mulai cenderung di cosourcingkan. Juga proyek dan pengoperasian internet bagi perusahaan. Yang menakjukan, ternyata ekspansi perusahaan-p[erusahaan raksasa, baik ekspansi ke wilayah lain—termasuk ke Negara lain—dan ekspansi secara business line (penganekaragaman produk), cenderung dilakukan dengan cara cosourcing

Adalah jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas, di mana hubungan antara perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing biasa. Ini misalnya terjadi dalam hal staf spesialis perusahaan diperbantukan kepada rekanan pemberi jasa kaena langkahnya keahlian yang diperlukan atau karena perusahaan tidak mau kehilangan staf spesialis tersebut. Dengan cara ini, keberhasilan pekerjaan seakan-akan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk juga risiko ketidakberhasilan.

PDF nya dapat diunduh di ——->Tugas SIM Outsourcing Margani M Iqbal

Comment 3-5 Blog .net. org .com

My friend who is my classmate, today on this very day, in the rainy cold weather got himself trouble. Oh dear…. be strong guy! just wait the moment and you will be able to make it up…

Qul khairan aw liyasmut…berkatalah yang baik/benar atau diam.